Harga Gas Mahal, Mengurangi Daya Saing Industri Indonesia

  • Whatsapp
Target 7%, Ahli Sebut Marak Kebijakan Menahan Pertumbuhan Ekonomi

Wartaniaga.com, Jakarta – Polemik kebijakan gas kembali mencuat ke permukaan publik, kali ini disertai dengan pernyataan keprihatinan Presiden Jokowi atas tingginya harga gas atau mahalnya harga gas di Indonesia.

Padahal hampir semua sektor industri menggunakan gas sebagai pendukung kegiatan produksi. Masalah ini terhitung sudah lama, yakni sejak tahun 2016. Kondisi ini sangat dikeluhkan oleh kalangan dunia industri.

Pengamat Kebijakan Publik Universitas Trisakti Jakarta, Profesor Trubus Rahardiansyah merasa khawatir, jika semakin tinggi harga gas maka akan membuat produk indonesia kurang kompetitif di pasar global.

Menurutnya, Kebijakan strategis salah satu upaya mengurangi impor migas adalah membeli Bahan Bakar Minyak (BBM) langsung ke pemasok, tanpa melalui tengkulak.

BACA JUGA:  Kalsel Bisa Contoh Jogja Agro Tekno Park

Mahalnya Harga Gas di Indonesia

Lanjutnya, langkah yang ditempuh pemerintah sudah mulai tender, bukan melalui trader tapi langsung kepada perusahaan yang menghasilkan minyak. Sebab jika pembelian secara langsung dapat memangkas margin dan selisih harga mencapai US$ 5-6 per barel dibandingkan harga minyak yang dibeli melalui perantara.

“Ini merupakan upaya menekan impor migas melalui strategi jangka pendek, menengah, dan panjang,” katanya.

Untuk mencari solusi, Trubus berkata tentunya harus dilakukan bertahap dengan refinery dan lifting, serta sumur minyak yang ada di Pertamina harus segera dikerjasamakan dengan berbagai pihak. agar tidak bisa dikontrol sendiri oleh Pertamina supaya ada sumber baru untuk minyak.

Pos terkait