Sosialisasi IKP, Media Siber Sumber Informasi Pertama Masyarakat

  • Whatsapp
prof muh nuh

Wartaniaga.com, Banjarmasin- Ketua Dewan Pers, Prof.Mohammad Nuh menegaskan bahwa masa depan jurnalisme tidak akan lepas dari dunia digital melalui platform internet, pada acara Sosialisasi Indeks Kemerdekaan Pers (IKP) 2019, kamis (19/12). Hal ini disebabkan dari turunnya minat masyarakat sekarang terhadap media surat kabar harian.

Dalam survey IKP 2019 yang dilakukan Dewan Pers, hanya tersisa 25,88 persen responden yang masin membaca surat kabar setiap hari, sementara 28,04 persen membaca 1-2 kali seminggu, 11,18 persen membaca kurang dari lima kali dalam sebulan, dan 34,90 persen tidak pernah membaca surat kabar.
Tidak hanya menimpa surat kabar, dari laporan survey tersebut waktu menonton televisi masyarakat juga menurun. Meskipun begitu sebagian besar responden masih menonton televisi, dan hanya 8,73 persen yang tidak pernah.

Dunia digital memberikan angin segar bagi dunia jurnalistik.

Turunnya minat masyarakat Indonesia terhadap surat kabar dan televisi, dipicu pindahnya perhatian masyarakat pada media siber. Dalam laporan didapatkan 46,57 persen responden mengakses media siber minimal dua jam perhari. 35,59 persen mengakses dua hingga empat jam perhari. 6,08 persen mengakses lebih dari delapan jam perhari. Dan hanya 11,76 persen tidak pernah mengakses berita dari media siber.

BACA JUGA:  Pemko Banjarmasin Tak Berdaya Dihadapan Duta Mall

Media siber pun menempati urutan pertama sebagai sumber informasi pertama yang diperoleh responden, yakni sebesar 26,67 persen. Lebih tinggi dibanding televisi (11,08%) dan surat kabar harian (3,43%) sebagai sumber informasi pertama masyarakat. Alasan responden memilih media siber sebagai sumber informasi setidaknya karena tiga alasan. Karena kecepatan (37,16%), kemudahan akses (35,88%), terbiasa akses media sosial digital (23,43%), dan dianggap informasi terpercaya (3,53%).

“Ini realitas anak zaman sekarang menghabiskan waktu di dunia maya sangat besar. Maka mau tidak mau media sosial menjadi sumber informasi.”ujar Mohammad Nuh.kemerdekaan pers

Media siber mendapatkan perhatian lebih karena tidak memiliki batasan dalam menampilkan produk informasi. Dengan konvergensi (penggabungan) media melalui teknologi internet, masyarakat dapat sekaligus menikmati tulisan, gambar dan video didalam satu genggaman smartphone.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini juga menyampaikan agar perusahaan pers masuk kewilayah digital dan memberikan dampak yang positif. Namun menurutnya meskipun bermigrasi ke ranah digital-online, jangan sampai melepaskan media fisik begitu saja. “Social media yang sekarang pegang kendali, dia masuk ke wilayah digital. Kita masih di wilayah physical. Tapi jangan masuk ke cyber malah yang physical ditinggal.”

BACA JUGA:  Basarnas Pantau Arus Mudik Natal Tahun Baru Lewat Jalur Laut

Menurutnya, perusahaan pers harus mencari alternatif baru agar media digital dan fisik yang dikelola bersamaan bisa berjalan sama-sama baik. “kalau langsung tutup (yang fisik) saya juga gak setuju. Pake hybrid. Kalau kaidah fiqih kan, mempertahankan yang lama yang masih baik dan mencari yang baru yang lebih baik.” Jelas Nuh.

Senada dengan Mohammad Nuh, Anggota Dewan Pers, Bambang Harymurti optimis dunia digital justru dapat memberikan angin segar bagi dunia jurnalistik.

“Saya percaya digital ini ujung nya bagus untuk journalism, tapi harus dengan model bisnis baru. Tapi belum kelihatan model bisnisnya gimana yang bagus.” Ujar Bambang.

Menurutnya dimasa depan perusahaan pers dapat lebih menghemat pengeluaran. Karena media digital tidak perlu mencetak koran, majalah, tabloid.

“Digital ini menyenangkan kalau orang mau bayar langganan nya langsung jadi laba, jadi margin. Karena gak perlu subsidi seperti cetak. Kalau di cetak makin banyak orang beli cetak rugi kita karena subsidi.” Papar mantan CEO Tempo tersebut.

BACA JUGA:  Komisioner KPU RI minta KPU Kalsel selalu Bawa Dua ‘Tas’

Bambang juga menceritakan dimasa depan bisa saja penghasilan pers dari layanan akses per artikel. Pembaca bisa mendonasikan uang jika ingin membaca penuh isi artikel online yang dipublikasi media pers. “Seperti di Cina per artikel sudah bisa di bayar dengan cara di klik murah. Bayangkan satu artikel di baca 1 juta orang dan tiap orang bayar 100 perak saja. Sudah dapat 100 juta rupiah kan penulisnya.”

Bambang juga memaparkan ide nya dengan konsep bayar per-artikel ini, “Gimana kalau nanti berita what, who, where, dan when itu gratis, sementara yang how dan why itu berbayar untuk informasi nya.”

Menurutnya inilah yang disebut dengan era inovasi distruptif. Era inovasi yang membantu menciptakan pasar baru dan cenderung menggangu dan merusak pasar yang sudah ada. Inovasi distruptif mengembangan produk dan layanan yang tak diduga pasar. “Bagi orang-orang Silicon Valley, distruptif ini justru menuju ke arah yang lebih menyenangkan. Maka jadikanlah jurnalistik ini hobi kita, kalau mengerjakan hobi dan kemudian dibayarkan menyenangkan.” Pungkas Bambang kepada hadirin yang kebanyakan para jurnalis itu.

Reporter / Foto : Muhammad Akbar
Editor : Erwand

 

Pos terkait