Wartaniaga.com, Jakarta – Beberapa ahli dari lembaga kredibel menilai ekonomi Indonesia di tahun 2020 hanya akan tumbuh sebesar 4,8%. Angka ini jauh dari proyeksi pemerintah yang mencapai 5,3%.
Pakar Ekonomi dan Kebijakan Publik, Universitas Trisakti Jakarta, Profesor Trubus Rahardiansyah menyatakan faktor penyebab dari hal tersebut adalah ketegangan perang dagang yang terus menguat sehingga menyebabkan tren pertumbuhan ekonomi dunia menurun, dan berdampak kepada perdagangan lintas negara.
Menurut Trubus ketegangan tersebut berdampak kepada turunnya permintaan barang dari Indonesia dan secara langsung berdampak kepada penurunan pertumbuhan ekonomi nasional.
“Karena itu, negara mitra dagang Indonesia pertumbuhannya slow down di 2020, China di bawah 6%, Amerika Serikat di bawah 2%, Jepang di bawah 1%. Hal ini yang membuat pesimistis pertumbuhan hanya akan tumbuh 4,8%,” bebernya.
Turunnya Pertumbuhan Ekonomi Membuat Pemerintah Menyiapkan Berbagai Upaya Agar Pertumbuhan Ekonomi Dapat Meningkat

Ia mengungkapkan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada 2020, pemerintah harus menyiapkan berbagai upaya. sehingga kunci utama yakni peningkatan konsumsi masyarakat.
“Ada dua cara menggenjot konsumsi masyarakat. Pertama, Pemerintah perlu mendorong kementerian/lembaga termasuk pemerintah daerah mempercepat belanja hingga mengeksekusi proyek pemerintah pada triwulan I-2020,” ungkapnya.
“Jadi sebelum daya beli mereka turun, perlu beri lebih dulu di depan sehingga masalah waktu penyaluran lebih cepat,” ia menambahkan.
Trubus menyebut percepatan belanja pemerintah hingga eksekusi proyek sudah ditekankan Presiden Joko Widodo ketika menyerahkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) 2020.
Lanjutnya, untuk itu kementerian/lembaga dan pemerintah daerah sudah mulai bersiap melakukan proses pengeluaran anggaran sejak Desember tahun ini, agar proses tender bisa dilakukan pada Januari 2020.
“Dengan demikian konsumsi dan daya beli masyarakat bisa dipertahankan salah satunya melalui kebijakan fiskal ini,” katanya.
Adapun yang kedua, Trubus membeberkan pemerintah harus mempercepat penyaluran bantuan sosial sehingga daya beli masyarakat bisa dipertahankan.
Menurutnya, hal ini untuk menjaga pertumbuhan konsumsi 40% masyarakat berpenghasilan rendah agar tetap tinggi. Sehingga dapat menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
“Hingga saat ini konsumsi menjadi kontributor terbesar (mencapai 56,8%) terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” terangnya.
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Ist



















