Wartaniaga.com, Kotabaru – Dalam dunia politik dan organisasi, kepemimpinan sering kali diidentikkan dengan instruksi yang kaku atau otoritas yang mutlak. Namun, bagi Abu Suwandi, menakhodai dua peran krusial sekaligus sebagai Ketua Komisi II DPRD Kotabaru dan Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kotabaru membutuhkan pendekatan yang jauh lebih humanis, Kamis (19/2).
Sosok politisi dari Fraksi PAN ini memegang teguh sebuah prinsip yang kini menjadi oase di tengah hiruk-pikuk perebutan pengaruh: kepemimpinan organik yang lahir dari kepercayaan, bukan tekanan.
Melalui sebuah pesan mendalam yang ia bagikan, Abu Suwandi menegaskan bahwa esensi sejati dari seorang pemimpin bukan terletak pada seberapa kuat ia memerintah, melainkan seberapa besar ia mampu menginspirasi secara sukarela.
“Sebaik-baik pemimpin adalah mereka yang tidak perlu memaksa orang lain untuk mengikutinya,” tutur Abu Suwandi.
Filosofi ini mencerminkan gaya kepemimpinannya di legislatif maupun di dunia usaha. Baginya, ketika seorang pemimpin berjalan di jalur yang benar dan menunjukkan keberpihakan pada rakyat, maka masyarakat dan para pelaku usaha akan mengikutinya dengan penuh kesadaran dan loyalitas.
Sebagai Ketua Komisi II DPRD, Abu Suwandi bertanggung jawab atas sektor ekonomi dan keuangan daerah. Sementara sebagai Ketua Kadin, ia menjadi motor penggerak bagi para pengusaha di Kotabaru. Peran ganda ini ia jalankan dengan prinsip “tanpa paksaan” tersebut.
Dalam setiap rapat dengar pendapat maupun pertemuan bisnis, ia lebih banyak mengedepankan dialog dan persuasi. Ia percaya bahwa kebijakan ekonomi yang sukses adalah kebijakan yang dirasakan manfaatnya secara langsung, sehingga masyarakat mendukungnya tanpa merasa terbebani.
Langkah-langkah politik dan organisatoris yang diambil Abu Suwandi selalu bermuara pada satu tujuan: kemajuan Kotabaru. Dengan prinsip kepemimpinan yang inklusif, ia berusaha menciptakan ekosistem di mana ada tiga poin yaitu.
Aspirasi Rakyat didengar tanpa rasa takut.
Iklim Usaha tumbuh melalui kolaborasi, bukan monopoli.
Kesejahteraan dicapai dengan kerja keras kolektif yang didasari rasa saling percaya.
Di mata rekan sejawat dan masyarakat Desa Kerayaan hingga pusat kota Kotabaru, Abu Suwandi dikenal sebagai figur yang tenang namun tegas dalam prinsip. Ia membuktikan bahwa untuk menggerakkan perubahan besar di Bumi Saijaan, seorang pemimpin tidak perlu berteriak lantang atau menggunakan tangan besi.
Cukup dengan menjadi teladan dan menunjukkan kerja nyata, maka rakyat dengan sendirinya akan merapatkan barisan. Karena pada akhirnya, kepemimpinan terbaik adalah tentang bagaimana memenangkan hati, bukan sekadar memenangkan kursi.
Repoter: Anaq.
Editor: Hariyadi




















