Program yang sama juga meraih penghargaan untuk kategori pengembangan keanekaragaman hayati. Sejak 2015 hingga 2020, IT Banjarimasin telah melakukan program CSR dalam konservasi dan perlindungan keanekaragaman hayati melalui konservasi Bekantan, restorasi mangrove Rambai, dan ekosistem lahan basah yang dilakukan di pusat rehabilitasi sementara-Bekantan Rescue Center Banjarmasin dan di Pulau Curiak Kab. Barito Kuala bekerja sama dengan Yayasan Sahabat Bekantan Indonesia.
Kegiatan ini telah membantu konservasi ± 40 jenis pohon langka dan ± 16 hewan yang dilindungi seperti Bekantan, Elang Bondol, Elang Putih, Monyet Ekor Panjang, Lutung dan sebagainya sesuai dengan peraturan P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi dan perlindungan Bekantan yang masuk dalam daftar merah lembaga konservasi internasional IUCN.
Melalui program ini, Sejak tahun 2015 sampai pada tahun 2020, bekantan yang telah menjadi sasaran program ada sebanyak 52 ekor dengan 40 kali evakuasi bekantan dan 25 kali pelepasliaran serta total 27 ekor bekantan yang saat ini berada di Pulau Curiak sebagai habitat alami dan berada di wilayah konservasi.
Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang energi terutama untuk suplai BBM di Kalsel dan Kalteng, banyaknya mobil tangki yang keluar masuk wilayah kantor IT menyebabkan perlunya ada peningkatan kualitas udara di sekitar tersebut. Selain itu, kurangnya lahan untuk melakukan penghijauan, kurangnya fasilitas yang disediakan untuk melakukan penghijauan, dan kurangnya tanaman yang penyerapan emisinya tinggi menjadi latar belakang membuat program pencegahan pencemaran udara dalam menjaga udara, merawat bumi.
Program ini yang mendapatkan penghargaan ketiga dalam kategori mempelopori pencegahan polusi. Kegiatan yang dilakukan dalam program ini antara lain normalisasi ATG (automatic tank gauge) sebagai pengganti manual sounding tangki, bunker service program melalui pemasangan jalur pipanisasi untuk mengurangi emisi pada saat back loading, dual purpose kerosene, program mobil tangki lulus emisi 605 dengan surat lulu hasil uji, menciptakan jalur banteng sebagai efisiensi pola supply BBM, penanaman pohon-pohon produktif, pemasangan alat bagi generator set untuk mengurangi emisi yang dikeluarkan dan rekayasa engineering lainnya untuk mengurangi berbagai emisi yang bisa dihasilkan.
Di sisi lain, DPPU Supadio menerima penghargaan atas program konservasi dan wisata edukasi Rusa Sambar atau yang lebih dikenal Edupark Rusa Sambar. Program kerjasama antara DPPU Syamsudin Noor dengan Balai Litbang LHK Banjarbaru dalam bidang mengembangkan keanekaragaman hayati di Kota Banjarbaru dengan melakukan koservasi terhadap satwa yang dilindungi.
Rusa sambar merupakan rusa terbesar di Indonesia. Rusa sambar atau dalam bahasa ilmiah (latin) disebut Cervus unicolor memiliki ciri khas tubuh yang besar dengan warna bulu kecoklatan dan cenderung berwarna coklat keabu-abuan atau kemerah-merahan, warna gelap sepanjang bagian atas. Rusa yang hidup di Sumatera dan Kalimantan ini dapat tumbuh setiggi 102 – 160 cm dengan panjang tubuh sekitar 150 cm.
Program Edupark Rusa Sambar hadir tidak hanya sebagai upaya konservasi alam serta sarana penangkaran dan perlindungan bagi satwa yang dilindungi. Akan tetapi program tersebut didesain untuk dapat menjadi sarana edukasi bagi anak sekolah TK, SD, dan SMP dalam menambah wawasan serta pengetahuan dalam mencintai dan menjaga keanekaragaman hayati.
Adapun bentuk inovasi yang dilakukan dalam pelaksanaan program tersebut yaitu dengan menciptakan kegiatan “Rabu Mengajar”. Edupark Rusa Sambar menjadi lokasi untuk menambah khasanah pengetahuan bagi siswa, mahasiswa dan juga masyarakat umum di Banjarbaru serta sebagai bahan riset bagi instansi terkait.




















