Untuk Kredit dan Pembiayaan pada tahun 2020 naik menjadi Rp11,19 Triliun, dimana di tahun 2019 lalu capaiannya sebesar Rp10,45 Triliun. Artinya ada kenaikan sebesar 7,13%. Dari pencapaian tersebut, Kredit Produktif yang meliputi Kredit Modal Kerja dan Kredit Investasi menyumbang sekitar 46,22%. Ini tentunya sudah sangat baik seiring dengan komitmen Bank Kalsel yang ingin menggeliatkan sektor ekonomi produktif di Banua, dimana pada tahun 2020 membukukan Rp5,17 Triliun naik 3,82% dibandingkan tahun 2019 sebesar Rp4,98 Triliun.
Pertumbuhan yang cukup signifikan adalah pada kinerja Laba (setelah pajak), yang dalam hal ini menunjukkan hasil yang cukup baik apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk kinerja Laba (setelah pajak), nilai yang berhasil dibukukan adalah Rp196,50 Miliar pada tahun 2020 ini. Pencapaian tersebut lebih tinggi 23,04% dibanding realisasi tahun 2019 lalu yang hanya mencapai Rp159,70 Miliar.
“Pencapaian indikator keuangan utama ini, Alhamdulillah berada di atas rata-rata per group BPD BUKU II seluruh Indonesia,” jelas Agus.
Terkait kebijakan bisnis di tahun 2021, Bank Kalsel mengangkat tema Growing in The Crisis yang diinterpretasikan ke dalam 3 (tiga) Model Bisnis sebagai Key Success Factor untuk dapat terus bertumbuh di tengah krisis, antara lain Survival Mode, Adaptive Mode dan Offensive Mode.
Model Bisnis tersebut diimplementasikan pada 2 (dua) Grand Strategy, yakni IT Development dan People Development, yang kemudian diturunkan lagi pada 3 (tiga) fokus strategi yang terdiri dari optimalisasi pendapatan untuk dapat mempertahankan rentabilitas dalam kondisi wajar, efisiensi biaya berdasarkan skala prioritas, dan Menjaga Kualitas Kredit (NPL).
“Dengan tiga fokus strategi tersebut diharapkan Bank Kalsel mampu meningkatkan kinerja keuangannya untuk tahun 2021 baik itu dalam hal pertumbuhan aset sebesar 8,41%, pertumbuhan DPK sebesar 9,71%, pertumbuhan kredit sebesar 6,50% dan laba sebesar 9,43%,” tukas Agus.




















