Wartaniaga.com, Banjarmasin- Generasi milenial dianggap memegang peran sangat penting dalam upaya pelestarian Bekantan dan ekosistem lahan basah. Karena untuk lima hingga lima belas tahun kedepan, generasi milenial lah yang akan memimpin dan merasakan kehidupan di masa-masa itu.
Hal itu disampaikan Ketua Sahabat Bekantan, Amalia Rezeki dalam kegiatan Sosialisasi Edukasi Peran Generasi Millenial dalam Upaya Pelestarian Bekantan dan Ekosistem Lahan Basah, di Swiss-Bell Hotel Banjarmasin, Jumat (27/12).
Ia juga berharap keanekaragaman hayati flora dan fauna yang ada di Kalimantan selatan bisa lestari dengan baik. Karena pada muaranya akan mendukung kesinambungan dan kehidupan manusia.
Didepan ratusan peserta yang kebanyakan dari kalangan mahasiswa, pelajar SMA, dan relawan konservasi itu Amalia meminta anak muda untuk memaksimalkan penggunaan teknologi dalam penyebarluasan informasi mengenai konservasi.
“Salah satu peran konkrit kawan-kawan milenial misalnya dengan menggunakan gadget yang dipunya sekarang. Coba saja kawan kawan foto kegiatan ini dibikin snapgram, dibagikan, maka semakin banyak yang tahu dan membantu menyebarkan sosialisasi pentingnya pelestarian bekantan.” ajak Dosen yang akrab dipanggil Amel itu.
Sementara pembicara lainnya, Ahli Pertanian, Sri Amintarti menjelaskan dengan melestarikan lahan basah maka menjaga kepunahan sumber makanan manusia, tumbuhan dan hewan, termasuk satwa endemik Bekantan.
“Gak bisa dihindari manusia makin banyak maka makin perlu sumber makanan. Semua menggantungkan makanan dari tumbuh-tumbuhan. Dalam rantai makanan, jika hewan kehabisan sumber makanan, maka manusia makan apa? Tanaman habis, hewan juga gak berkembang biak karena tidak cukup pakannya.” Papar Koordinator Program Studi Pendidikan Biologi ULM itu.
Ditambahkan Sri, jika semua lahan basah digunakan untuk pembangunan perumahan atau lahan perkebunan sawit, maka akan menggerus habitat bekantan. Pembukaan lahan harus lebih bijaksana dan harus menjadi perhatian serius pemerintah. “Perlu peran kebijakan pemerintah. Pemerintah juga perlu tau jika semua lahan digunakan untuk sawit, lama kelamaan akan gersang. Karena menyerap air sangat banyak.” Jelas Sri.
Sahabat Bekantan Indonesia (SBI) memperkirakan kini jumlah populasi Bekantan yang bernama latin Nasalis Larvatus di Kalimantan Selatan sekitar 2500-an ekor. Jumlahnya menurun drastis dibanding rilis pemetaan SBI pada tahun 2013 yang berjumlah 5000 ekor.
Saat ini habitat Bekantan yang merupakan maskot fauna asli Kalimantan ini masuk dalam status terancam punah. Kebanyakan disebabkan alih fungsi lahan menjadi pemukiman, dan konflik dengan manusia. Pada tahun 2019 saja, SBI bersama BKSDA telah melakukan upaya evakuasi 12 ekor Bekantan yang tersesat masuk ke pemukiman warga di wilayah Kalsel dan Kalteng.
Sementara menurut Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel, jumlah bekantan di Kawasan Konservasi Pulau Bakut sendiri sekitar 68 ekor. BKSDA Kalsel juga sering mendapakan laporan dari warga perihal masuknya satwa dilindungi ke pemukiman penduduk.
Di tahun 2019, BKSDA mencatat ada 27 satwa dilindungi yang berhasil di evakuasi dan dilepasliarkan kembali ke alam. Selain bekantan satwa tersebut diantaranya adalah elang, kukang, buaya, dan penyu.
Perwakilan BKSDA Kalsel yang turut hadir sebagai narasumber, Muhammad Fajerian Noor menghimbau untuk melaporkan BKSDA jika mengetahui adanya satwa endemik dan dilindungi terancam memasuki pemukiman.
“kami meminta kepada masyarakat yang mengetahui ada satwa endemik yang memasuki pemukiman warga atau terancam diperjual belikan bisa segera menghubungi call center BKSDA di 081248494950” ujar Fajerian yang juga merupakan Polisi Hutan tersebut.
Selain kegiatan diskusi dan tanya jawab, pada kegiatan tersebut juga dilaksanakan pengukuhan sembilan orang Relawan Bekantan Indonesia.
Para relawan Bekantan ini akan melakukan berbagai kegiatan konservasi untuk pelestarian bekantan. Mulai dari turut serta dalam evakuasi dan rehabilitasi bekantan, penanaman pohon mangrove, sampai menggiatkan fund raising agar beragam upaya pelestarian bekantan dan lahan basah terus berlanjut.
Rep / Foto : Muhammad Akbar
Editor : Erwand




















