Menangkal Ancaman, Tingkatkan Rasa Nasionalisme dan Cinta Tanah Air

  • Whatsapp
Rasa Nasionalisme

Wartaniaga.com, Pelaihari – Danton Kompi C 623 Pelaihari, ajak puluhan orang pemuda yang mengikuti kegiatan bela negara di Aula Kompi C 623 Pelaihari, Sabtu 23 November 2019 untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan cinta tanah air.

“Ancaman dari luar maupun ancaman dari dalam dapat ditangkal, apabila generasi muda mempunyai rasa nasionalisme dan kecintaan kepada tanah air yang kuat.” kata Letnan II Kristian Laiskodat selaku Danton Kompi C 623 Pelaihari.

Ia menyebut kegiatan bela negara tersebut diikuti oleh sekitar 40 orang perwakilan para generasi muda dalam kegiatan pelatihan DPD KNPI Kabupaten Tanah Laut.

Meningkatkan Rasa Nasionalisme Generasi Muda Sangat Berpengaruh Terhadap Bangsa

Kristian menjelaskan para generasi muda harus mempunyai rasa nasionalisme dan kecintaan kepada tanah air yang kuat untuk melindungi dan membela negara dengan wawasan intelektual yang dimiliki.

BACA JUGA:  Desa Banyu Hirang Terpilih Jadi Kampung Tangguh HSU

“Bela negara dan kecintaan kepada tanah air Indonesia wajib dilaksanakan oleh seluruh komponen bangsa, implementasinya disesuaikan dengan peran masing-masing,” tegas Kristian.

Sementara itu, Ramadani, panitia pelaksana pelatihan pemuda bela negara menambahkan pelatihan tersebut dilaksanakan karena semakin besarnya tantangan yang dihadapi bangsa dan semakin kompleksnya ancaman akibat dari perkembangan global.

“Arus globalisasi dan modernisasi memberikan pengaruh yang besar terhadap identitas bangsa,” ucap Dani.

Rasa Nasionalisme

Dirinya menambahkan semakin berkembang dan maraknya arus globalisasi dunia, membuat sebagian generasi muda terpesona oleh perkembangan global, sehingga secara tidak sadar melalaikan kewajiban untuk melindungi dan membela negara dari ancaman yang datang.

Syarnadi Abdilah, penasehat KNPI yang didaulat sebagai pemateri pada kegiatan tersebut mengatakan sebenarnya bangsa Indonesia sudah memiliki cara yang terbaik untuk mengatasi perbedaan pendapat, yaitu musyawarah untuk mufakat.

BACA JUGA:  DPRD Kutai Kertanegara Belajar Banyak dari Bumi Sanggam

Namun baginya cara yang sesungguhnya merupakan ciri khas bangsa Indonesia nampaknya sudah dianggap kuno dan tidak lagi sesuai dengan kebutuhan masyarakat pada era reformasi.

” Cara pengambilan suara terbanya yang dianggap demokratis saat ini,” tutur Syarnadi.

Ditambahkannya cara tersebut sering kali menimbulkan rasa tidak puas bagi pihak yang kalah, sehingga memilih cara pengerahan massa atau tindakan lainnya yang tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

“Disinilah kita akan tumbuhkan rasa nasionalis bagi para generasi muda serta memperluas nilai kebangsaan dan wawasan bagi mereka,” pungkas Syarnadi.

Reporter : Tony Widodo
Editor : Muhammad Zahidi
Foto : Tony

L

Pos terkait