Tidak Miliki Biaya, Orang Tua Penderita Atresia Billier Hanya Bisa Pasrah

  • Whatsapp
Marzuki orang tua balita penderita Atresia Billier (wartaniaga.com - Didin Ariyadi)

WARTANIAGA.COM, BANJARMASIN – Marzuki hanya bisa berdiam diri dan tidak banyak berkata-kata ketika rumahnya di sambangi sejumlah wartawan serta anggota dewan Kota Banjarmasin.

Betapa tidak, sang buah hatinya Ackmad Mualana yang berusia baru 6 bulan tergolek lemas tidak berdaya disebabkan penyakit saluran empedu atau Atresia Billier.

Muat Lebih

Penyakit serius yang mempengaruhi bayi baru lahir ini terjadi pada satu dari 10.000 anak. Hilangnya saluran empedu menyebabkan hati tidak dapat bekerja dengan baik atau kerusakan pada hati.

Menurutnya gejala penyakit ini diketahui sejak sang anak baru berusia 2 bulan dan baru diberi pengobatan intensif setelah berusia 5 bulanan. Terlebih lagi Ackmad Maulana tidak  mendapatkan imuniasi yang lengkap. “Baru satu kali  sejak mulai lahir” ujarnya

BACA JUGA:  Bersama Rumah Zakat, Posyandu Lestari Ciptakan Kebun Produktif

Tidak pernah terbayang oleh Marzuki harus mengalami nasib seperti ini, pasalnya saat di Lamandau, Kalteng dirinya telah melakukan berbagai upaya pengobatan, mulai dari pengobatan tradisional hingga medis yang berujung pada ketidakmampuan rumah sakit setempat menangani anak keduanya ini.

Berbekal dana seadanya, dirinya bersama sang istri Siti Sarinah membawa Ackmad Maulana ke Rumah Sakit Ansyari  Saleh Banjarmasin. Namun hanya beberapa hari sang anak harus dirujuk ke Rumah Sakit Ulin dengan alasan fasilitas lebih lengkap.

Dan 2 malam di rumah sakit terbesar di Kalsel itu, dirinya kembali mendapat penolakan karena ketidakmampuan penanganan penyakit.

Sedihnya lagi, sejak keluar dari rumah sakit itu perut sang anak membesar dan kondisi tubuhnya semakin lemas. Menghabiskan biaya hingga Rp 7 jutaan, Marzuki kini tidak memiliki biaya lagi untuk pengobatan anaknya.

BACA JUGA:  Keluarga Besar Kodim 1007/Bjm Buka Puasa Bersama Relawan Kalsel Peduli

“Saran dari dokter rumah sakit Ulin anak saya di bawa ke rumah sakit di pulau Jawa karena di sini fasilitas tidak mencukupi. Tetapi saat ini saya masih bingung mengingat biaya yang diperlukan untuk berobat ke sana sangat besar” katanya.

Dirinya hanya bisa berharap dari pengobatan-pengobatan alternatif. Dan kedatangan anggota dewan DPRD Kota Banjarmasin memberi secerca harapan untuk pengobatan sang buah hati.

“Sementara ini saya hanya membawa ke pengobatan tradisional dan alternatif karena tidak ada lagi biaya. Semoga kedatangan bapak-ibu anggota dewan bisa membantu mencarikan solusi untuk pengobatan anak saya” harapnya.

Reporter : ***

Editor : Didin Ariyadi

Foto : Didin Ariyadi

 

Pos terkait