Pilihan lainnya juga bisa menjajakan produk secara langsung tanpa melalui media iklan. Hal ini dianggap merugikan industri media yang sudah ada.
“ Inilah tantangan lain yang dirasakan industri media. Lalu kita bisa apa. Jawabnya adalah kita pelaku industri media termasuk di dalamnya jurnalis perempuan harus mengikuti perubahan yang sedang terjadi, serta melek informasi dan teknologi. Jika tidak kita bakal ketinggalan dan jurnalis perempuan tidak bisa tangguh,” Kata Titin Rosmasari saat menjadi pembicara utama dalam Sarasehan Jurnalis Perempuan Indonesia, Banjarmasin, Minggu (09/02).
Titin Rosmasari pun membagikan kisah dan transformasi yang mereka lakukan saat berhadapan dengan era digitalisasi media. Saat ini adalah waktu yang krusial karena keputusan yang dibuat akan menentukan nasib keberlangsungan media mereka, apakah akan terus bertahan atau tumbang seperti yang lain. Titin pun tidak menampik jika jumlah pengguna internet yang semakin tinggi dan internet diprediksi akan segera mengubah model distribusi dalam industri media saat ini.
“Kita perempuan selaku praktisi media perlu memperhatikan karakteristik dan bentuk-bentuk perkembangan teknologi saat ini agar dapat memanfaatkannya secara maksimal dan menyiapkan langkah-langkah antisipati yang tepat, seperti menyiapkan keterampilan yang dibutuhkan di era Revolusi industri 4.0 ” ujarnya menjelaskan.
Lebih jauh Titin Rosmasari membagikan kiat-kiat agar bisa bertahan di tengah gempuran persaingan era disrupsi saat ini.



















