Wartaniaga.com, Tanah Bumbu — Di era media sosial yang serba cepat, banjir informasi datang silih berganti tanpa jeda. Kebakaran, kecelakaan, hingga peristiwa sehari-hari kerap lebih dulu muncul di lini masa sebelum terverifikasi kebenarannya.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam kegiatan Capacity Building Jurnalis BI 2026 yang digelar di Hotel Ebony, Senin (10/2).
Aris Prasetyo, Wakil Kepala Desk Ekonomi dan Bisnis Harian Kompas, menegaskan bahwa kecepatan unggahan di media sosial tidak selalu sejalan dengan kualitas informasi.
“Berita di media sosial memang cepat, tapi sering kali tidak memiliki kualitas jurnalistik. Berbeda dengan produk jurnalistik yang melalui proses verifikasi,” ujarnya di hadapan para jurnalis.
Menurut Aris, jurnalisme yang berkapasitas lahir dari kerja lapangan. Jurnalis dituntut turun langsung, menggali fakta, dan menghadirkan berita yang memenuhi unsur 5W+1H secara utuh.
“Dengan turun ke lapangan, berita bisa disajikan lebih humanis. Jurnalis akan bertemu banyak narasumber dan menemukan sudut pandang yang lebih kaya,” jelasnya.
Ia menambahkan, kerja jurnalistik di lapangan membuka peluang menemukan angle menarik yang tak bisa diperoleh hanya dari balik layar gawai.
Khusus jurnalis ekonomi, Aris mengingatkan agar tidak terjebak pada angka semata. Data yang berlimpah justru berpotensi membuat pembaca lelah jika tidak dikemas dengan baik.
“Berita ekonomi harus terasa dekat dengan kehidupan masyarakat. Jangan hanya angka, tapi tunjukkan dampaknya secara nyata,” ungkapnya.
Selain itu, penggunaan bahasa yang mudah dipahami serta visualisasi yang menarik menjadi kunci agar berita tetap relevan dan diminati pembaca.
“Gunakan analogi sederhana, fokus pada dampak, humanisasi data, dan bahasa yang membumi. Di situlah jurnalisme punya kekuatan,” pungkasnya.
Di tengah riuh rendah media sosial, pesan itu menjadi pengingat: jurnalisme bukan sekadar cepat, tetapi harus bermakna, akurat, dan menyentuh nurani pembaca.
Editor : Eddy Dharmawan




















