Bang Dhin: 20 Persen Dana Desa untuk Bidang Kesehatan

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Batulicin- Salah satu efek pandemi bagi perekonomian masyarakat adalah berkurangnya asupan gizi pada anak-anak terutama anak balita.

Ditambah kebijakan relokasi anggaran dimungkinkan berpengaruh pada alokasi dana untuk kegiatan pencegahan stunting. Pembatasan kegiatan masyarakat juga menyebabkan terhentinya layanan posyandu. Ada kekhawatiran pandemi Covid-19 akan menambah angka stunting baru.

Stunting atau kerdil adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan, yaitu dari janin sampai anak berusia dua tahun.

Stunting berpotensi penyakit jantung dan rendahnya kemampuan belajar hingga akhirnya berakibat tidak optimalnya produktivitas dan hal ini tidak diinginkan dalam pembangunan manusia.

BACA JUGA:  Wahid Pimpin Apel Gelar Pasukan Karhutla

Pemerintah telah memberikan dukungan anggaran untuk pencegahan stunting sesuai dengan Permendesa Nomor 19/2017 tentang prioritas penggunaan Dana Desa 2018, disebutkan bahwa Dana Desa dapat digunakan untuk kegiatan penanganan stunting sesuai musyawarah desa.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua DPRD Kalsel, Muhammad Syaripuddin melakukan kunjungan lapangan bersama Dinkes Provinsi Kalsel ke Desa Wonorejo Kusan Hulu. Turut hadir Dinkes Tanah Bumbu, Puskesmas dan pengelola Posyandu, Kader dan perwakilan dari orangtua yang anaknya terindiksi stunting.

“20 persen dana desa untuk bidang kesehatan termasuk didalamnya Stunting, buat kegiatannya dengan serius. Dana desa tidak hanya sekadar untuk pembangunan infrastruktur. Desa harus berinovasi,” imbau pria yang biasa dipanggil Bang Dhin.

Pos terkait