Perkara antusiasme peserta vaksin, Kepala Desa Tampakang, Ardiansyah mengatakan, massifnya kabar beredar terutama di media sosial, perihal dampak vaksin, yang bahkan berujung kematian itu, tak berpengaruh besar pada warganya.
Umumnya, terang Ardiansyah, masyarakat desa yang dipimpinnya cenderung mengikuti para tokoh dan tetua setempat. “Mereka melihat langsung, kami yang sudah cukup berumur ini, tidak mengalami dampak serius usai divaksin, jadi mereka juga tak merasa khawatir,” terangnya.
Itupun sebenarnya, diakui Ardiansyah, masih banyak warga yang berharap bisa ikut vaksin Adaro, namun terbatasnya dosis yang tersedia, membuat warga harus menunggu kesempatan lain.
Di Desa Sapala, tim tiba lebih pagi, sekitar pukul 09:00 Wita, persiapan vaksin usai digelar. Hj Arbainah, jadi peserta pertama. Untuk tiba di Puskesmas Sapala, ia harus menyeberang Sungai Paminggir. ” Umpat manyubarang ae lwan urang, ngaran Kanakan bacari saisukan,” ujarnya.
Sebelum vaksin, tekanan darah diperiksa. Arbainah, punya tensi terukur cukup tinggi. Sementara ia diminta menunggu, sambil menenggak obat penurun tensi darah. Arbainah urung pulang, baginya lebih baik menunggu.
“Lapah Ulun Mun bulang bulik, baik mahadangi ha satumat, kalo mau turun tensinya. Imbah ini, ujar kadada lagi vaksin Adaro pak lah, maulangi matan awal pulang,” kata Arbainah.



















