Terapkan Smart Farming, Petani Millenial Tabalong Nikmati Efisiensi Biaya Produksi

“Untuk penerapan konsep smart farming di lahan sekitar 2.000 meter persegi ini kami menjalin kerjasama dengan Pemuda Tani Keren Bali berupa transfer teknologi serta pengaplikasiannya. Penerapan smart farming ini mencakup penggunaan alat cek PH tanah serta fertilizer portable berdasarkan data lahan dan jenis tanaman dengan sistem record berbasis aplikasi”, papar Dwi.

Dengan konsep smart farming ini diakui Dwi memudahkan dalam mengecek suhu, fertilizer, pengairan dan pemupukan. Sistem ini dalam bidang pertanian membantu mengoptimalkan akurasi kondisi lapangan dan alat ini bekerja dengan sebuah sensor yang terhubung sehingga memaksimalkan akurasi data secara real time.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

“Kami lebih mudah mempresisikan kebutuhan hara untuk tamaman agar lebih efisien dengan sistem ini. Singkat kata efisiensi produksi dapat diraih dengan smart farming” ,tambah Dwi.

Tak ingin sukses secara personal, Dwi pun membentuk asosiasi petani milenial Kabupaten Tabalong sejak 2019 dan kini telah berbadan hukum dengan jumlah anggota 199 tersebar di 12 kecamatan.

“Kami mengembangkan jenis tanaman hortikultura seperti cabai tiung tanjung, bawang merah, cabai keriting, cabai besar, terong, tomat, daun bawang. Selain penerapan konsep smart farming, petani muda di Desa Ribang juga mengiatkan pertanian dengan pola semi organik serta melakukan sejumlah inovasi untuk menjaga mutu dan hasil pertanian, peternakan, perkebunan, tanaman pangan dan holtikultura”, jelasnya.

Dwi pun tak sendiri, ia dan rekan petani milenial ini juga mendapat pembinaan serta pendampingan dari Kementan hingga Dinas Pertanian Provinsi Kalsel serta Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan, Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Tabalong.

Sumber : Humas SMK PP Banjarbaru

Pos terkait