Wartaniaga.com, Banjarbaru – Ancaman Super El Niño pada 2026 tidak boleh dianggap sepele. Fenomena iklim yang berpotensi memicu panas ekstrem dan kekeringan berkepanjangan ini dapat menimbulkan efek berantai, mulai dari krisis air bersih, penurunan produksi pangan, hingga meningkatnya risiko penyakit dan kematian.
Peringatan tersebut disampaikan Profesor Husaini dari Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Kalimantan Selatan. Ia menyebut dampak Super El Niño sebagai ancaman “kematian diam-diam” karena bahayanya dapat berkembang secara perlahan, tanpa disadari masyarakat hingga dampaknya menjadi serius.
“Super El Niño tidak merobohkan bangunan dalam semalam. Fenomena ini bekerja secara perlahan, menaikkan suhu beberapa derajat, memperpanjang kekeringan selama beberapa minggu, dan mengubah pola curah hujan ke wilayah lain. Perubahan kecil yang terlihat itu, dalam skala jutaan nyawa, dapat berubah menjadi korban jiwa yang nyata,” kata Husaini di Banjarbaru, Rabu (14/10).
Menurutnya, dampak panas ekstrem tidak hanya berkaitan dengan ketidaknyamanan akibat cuaca terik. Suhu tinggi yang berlangsung lama dapat memperburuk penyakit jantung dan gangguan pernapasan. Sementara itu, kekeringan dan keterbatasan pangan berpotensi meningkatkan risiko malnutrisi, terutama pada kelompok masyarakat rentan.
“Ada pembunuh yang tak terdengar. Tak ada suara ledakan, tak ada bangunan yang runtuh, namun orang-orang bisa kehilangan nyawa akibat panas ekstrem, kekeringan, kelaparan, dan kerusakan lingkungan. Inilah yang perlu kita waspadai sebagai kematian diam-diam,” ujarnya.
Proyeksi Ratusan Ribu Kematian Jadi Peringatan
Husaini mengutip laporan Reuters pada 2026 yang memuat perkiraan Climate Impact Lab dari Universitas Chicago. Berdasarkan proyeksi tersebut, panas ekstrem yang berkaitan dengan Super El Niño berpotensi menyebabkan hingga 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia selama periode Juni 2026 hingga Februari 2027.
Indonesia diperkirakan berpotensi mengalami sekitar 19.300 kematian tambahan. Namun, angka tersebut merupakan proyeksi risiko, bukan jumlah kematian yang telah terkonfirmasi.
Potensi dampak tersebut menjadi peringatan penting agar upaya pencegahan dilakukan sejak dini. Kelompok rentan, seperti lanjut usia (lansia), ibu hamil, anak-anak, penderita penyakit jantung, serta pekerja yang beraktivitas di luar ruangan, perlu mendapatkan perhatian khusus.
Paparan suhu tinggi dalam waktu lama dapat menyebabkan dehidrasi, kelelahan akibat panas, hingga sengatan panas (heatstroke) yang mengancam jiwa.
“Kita tidak boleh menunggu sampai orang mulai jatuh sakit dan angka kematian meningkat baru menyadari bahayanya. Ancaman ini perlu diidentifikasi sejak dini dengan menganalisis data iklim dan kondisi kesehatan masyarakat,” tegas Husaini, yang juga menjabat Koordinator Kampus ULM Banjarbaru.
Karhutla hingga Ancaman Krisis Pangan
Selain mengancam kesehatan, kemarau panjang juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Bagi Kalimantan Selatan, kondisi tersebut menjadi peringatan untuk memperkuat pengawasan kawasan rawan kebakaran, memastikan ketersediaan sumber air, serta meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat dari dampak panas dan kabut asap.
Perubahan suhu, kelembapan, dan pola curah hujan juga dapat memengaruhi dinamika penyebaran penyakit, termasuk demam berdarah dengue (DBD). Karena itu, pemantauan kasus, pemberantasan sarang nyamuk, dan kesiapan fasilitas pelayanan kesehatan perlu terus diperkuat.
Ancaman lainnya datang dari sektor pertanian. Keterbatasan air irigasi akibat kekeringan dapat mengganggu pertumbuhan tanaman dan menurunkan hasil panen. Jika produksi pangan berkurang, sementara harga kebutuhan pokok meningkat, keluarga berpenghasilan rendah berisiko mengalami penurunan kualitas konsumsi pangan.
Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat memperburuk masalah gizi, terutama pada anak-anak dan ibu hamil yang membutuhkan asupan nutrisi memadai.
“Ketika hasil panen menurun, air menjadi langka, dan harga pangan naik, dampaknya melampaui aspek ekonomi. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.
Kesiapsiagaan Harus Dimulai Sebelum Krisis
Husaini menegaskan, menghadapi potensi dampak Super El Niño diperlukan langkah antisipasi yang terencana dan melibatkan berbagai pihak. Pemerintah dan masyarakat perlu memperkuat pemantauan iklim dan kesehatan, melindungi kelompok rentan, menjaga ketersediaan air bersih, memastikan pasokan pangan, serta meningkatkan upaya pencegahan karhutla.
Edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya paparan panas juga menjadi bagian penting dari upaya mitigasi. Masyarakat perlu memahami tanda-tanda gangguan kesehatan akibat panas, menjaga kecukupan cairan, dan membatasi aktivitas berat di luar ruangan saat suhu sangat tinggi.
Super El Niño bukan sekadar persoalan cuaca panas. Di balik suhu yang meningkat dan hujan yang berkurang, terdapat ancaman berantai terhadap kesehatan, ketahanan pangan, ketersediaan air bersih, hingga keselamatan manusia.
Karena itu, kewaspadaan tidak seharusnya baru muncul ketika sumur mulai mengering, lahan terbakar, harga pangan melonjak, atau masyarakat jatuh sakit. Antisipasi sejak dini menjadi langkah penting agar ancaman iklim tidak berkembang menjadi krisis kemanusiaan yang lebih luas.
Editor : Eddy Dharmawan



















