Didukung Menkes, Bea Cukai Akan Pungut Cukai Minuman Berpemanis

Wartaniaga.com,Jakarta-Mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan ( Kemenkes), Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) akan memungut  cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) mulai tahun ini.

Direktur Jenderal Bea Cukai Askolani mengatakan, pihaknya sudah mendapatkan dukungan dari Menteri Kesehatan agar kebijakan itu bisa diterapkan tahun 2024 ini.

“Dapat kami sampaikan Menkes sangat mendukung untuk mengimplementasikan ini pada 2024,” kata Askolani dalam konferensi pers, Kamis (22/2/2024).

Pihaknya dengan Badan Kebijakan Fiskal juga sudah melakukan koordinasi dengan lintas kementerian/lembaga untuk mempersiapkan regulasi cukai terhadap produk MBDK rampung pada 2024.

” Tentunya kami dengan BKF sudah melakukan koordinasi dengan lintas kementerian/lembaga untuk mempersiapkan regulasi dan review kebijakan mengenai pajak tersebut,” ujarnya.

Setelah perumusan regulasi ini rampung, Kemenkeu bakal merumuskan jadwal pelaksanaannya. Di sisi lain, regulasi itu tentunya akan dibahas juga dengan Komisi 11 DPR RI.

Adapun ide cukai ini sebenarnya sudah mencuat sejak 2016 lantaran semakin besarnya efek minuman berpemanis terhadap kesehatan masyarakat. Kebijakan ini bahkan sempat ditargetkan akan diterapkan pada 2023, namun akhirnya mundur.

Padahal Kemenkeu telah menetapkan penerimaan dari cukai minuman berpemanis ini pada 2022 yang diatur di dalam Peraturan Presiden (Perpres) 104/2021. Di dalamnya, tercantum target penerimaan cukai dari produk minuman berpemanis sebesar Rp1,5 triliun.

Pada Februari 2020, Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah menyampaikan kepada DPR RI bahwa potensi penerimaan dari cukai ini bisa mencapai Rp6,25 triliun. Saat itu, Sri Mulyani mengusulkan tarif cukainya untuk teh kemasan sebesar Rp1.500 per liter.

Menurut data Kemenkeu, produksi teh kemasan mencapai 2.191 juta liter per tahun sehingga potensi penerimaannya sebesar Rp2,7 triliun. Sementara itu, minuman karbonasi sebesar Rp2.500 per liter dan produksinya mencapai 747 liter per tahun, sehingga potensinya Rp1,7 triliun.

Editor : Fairuz Reza

Pos terkait

banner 468x60