Loading...
13 views

Ada Apa Dibalik Ambruknya Oprit Jembatan Tabirai • Kajati Kalsel Akan Bentuk Tim

Loading...

Wartaniaga.com, Kandangan – Ambruknya oprit jembatan Sungai Tabirai yang menghubungkan desa Karang Paci, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dengan desa Masta, Kabupaten Tapin menyisakan pertanyaan mendalam bagi warga kedua belah desa tersebut.

Betapa tidak, jembatan yang baru selesai dikerjakan pada Desember 2018 terbilang masih “Seumur Jangung”, Pasalnya proyek yang nilainya mencapai Rp. 20-an milyar yang dikelola oleh institusi pemerintah sekelas Balai Besar Jalan Nasional yang dianggap profesional, handal dan berpengalaman, ternyata masih juga tidak akurat dalam mengkaji struktur tanah.

Sebagaimana diungkapkan Kepala Desa Masta Hartoni, selain arus air yang cukup deras jika pasang juga kondisi tanah di daerah ini lembek.

“ Kayaknya kontraktor tidak memperhitungkan kondisi tanah yang lembek, rawa dan mudah tergerus oleh air pasang” ujanya
Terlebih lagi, ungkap pria yang sudah 2 kali menjabat sebagai kepala desa ini, Sungai Tabirai ini pertigaan yang mana arusnya cukup deras.

Kepala Desa Masta Kec. Kalumpang HSS Hartoni

Menurut pengamatan Hartoni pengerjaan jembatan hanya memakan waktu kurang dari 7 bulan sejak dikerjakan pada pertengahan Juni 2018. “ Kontraktor kebut – kebutan mengerjakannya, kira – kira bulan Juni mulainya dan selesai pada Desember 2018” terangnya seraya menambahkan dikerjakan siang dan malam.

BACA JUGA:  KPU Kotabaru Sediakan 26 Titik Alat Peraga Kampanye

Meski demikian dirinya mengaku bersyukur, mengingat pada saat kejadian tidak ada korban. “Alhamdulillah saat terjadinya oprit ini ambrol yang membuat jalan terbelah lalu lintas sedang sepi sehingga tidak menimbulkan korban jiwa” ucap Kades Masta.

Dirinya berharap pemerintah sesegeranya memperbaiki kerusakan ini karena dikhawatirkan semakin parah dan menelan korban saat melintas, Mengingat jembatan ini tidak ada penerangan pada malam hari, khawatir kalau ada yang terperosok ke sana, katanya.

Kajati Kalsel Arie Arifin, SH MH saat wawancara dengan sejumlah wartawan

Sementara itu, Kejati Kalsel, Arie Arifin SH MH kepada sejumlah wartawan akhir pekan tadi mengungkapkan akan menurunkan tim untuk mengkaji ambruknya jembatan itu.

“ Kami sudah berkordinasi dengan Kejaksaan Negeri setempat untuk mencari tahu apa yang terjadi hingga ambruknya jembatan itu dan sesegeranya juga kami akan membentuk tim untuk menangani masalah itu” jelasnya .
Dikatakanya pihaknya masih menunggu laporan dilapangan untuk menentukan langkah selanjutnya. “Kita tunggu laporan dulu, baru kita akan ambil langkah selanjutnya” tandas Arie

BACA JUGA:  Kontes Waria Dibatalkan, Ulama Kecam Keras Penyelenggaraannya
Loading...

Sedangkan, Direktur PT. Pandji Pratama Indonesia, Panji Setiawan saat dikonfirmasi menjelaskan bahwa, pengerjaan yang dilakukan perusahaannya sudah sesuai dengan ketentuan dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional XI selaku pemberi proyek. “ Yang kami kerjakan itu sudah sesuai spek semua” ucapnya saat dihubungi melalui sambungan telpon.

Dirinya berkilah ambruknya oprit jembatan itu dikarena faktor alam bukan karena kelalaian pengerjaaan. “ Itukan karena struktur tanah yang lembek dan yang ambruk bukan jembatan hanya oprit saja”, kilahnya.

Dikatakannya lagi, perusahaan sudah melakukan kajian sebelum membangun jembatan tersebut, namun karena faktor alam, maka musibah itu terjadi, seraya menegaskan “pihaknya akan sesegeranya memperbaiki”, janjinya.

Terkait dengan ungkapan Kepala Satker Wilayah II Banjarmasin yang bernama Tito pada media beberapa hari lalu (Radar 17/7), “jembatan tersebut masih tanggung jawab kontraktor karena masih dalam masa pemeliharaan”, oleh masyarakat ungkapan ini sungguh menyakitkan warga khususnya pelintas jalan jembatan tersebut, terkesan menganggap enteng persoalan bahkan cendrung mau “lepas tangan”.

BACA JUGA:  Dana Desa di Kecamatan Kuranji Dievaluasi

Karena menurut masyarakat sebelum pekerjaan ini dilelangkan tentunya pihak Balai sudah melakukan kajian  – kajian, hingga terbentuklah RAB, kemudian setelah dilelangkan dan didapatkan pemenang lelang, seterusnya pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh kontraktor, tentunya seiring dengan itu, proses pengawasan juga berlangsung.

Nah yang jadi pertanyaan apakah proses ini tidak dijalankan, maka dari itu hendaknya pihak Satker yang notabene Balai Besar Jalan jangan lepas tangan dan menimpakan dengan pihak kontraktor saja, disisi lain pihak kontraktor hendaknya “tidak dengan mudahnya menggunakan alasan faktor alam, bukankah itu semua sudah dilakukan kajian sebelum melaksanakan proyek, apalagi peristiwa ambruknya ini tidak didahului bencana alam seperti gempa atau banjir” jelas mereka kepada wartaniaga saat memantau dilapangan.

Reporter : Edy Koesmono

Editor : Didin Ariyadi

Foto : Edy Koesmono

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *