Taksi Kuning, Hidup Segan Mati Tak Mau (Bagian 1)

  • Whatsapp

Wartaniaga.com, Banjarmasin – Di era tahun 1988 hingga 2000 angkot atau yang lebih dikenal masyarakat Banjarmasin dengan sebutan Taksi Kuning adalah moda transportasi yang paling laris dan banyak digunakan.

Namun, semenjak kepemilikian kendaraan pribadi khususnya roda 2 meningkat, seiring itupulah taksi kuning mulai kurang diminati, bahkan teramcam mati. Buktinya tidak dari tahun ketahun armada serta trayeknya juga makin berkurang.

Pada masa kejayaannya, hampir seluruh pelosok kota Banjarmasin ada trayek untuk taksi ini. Bukan itu saja, saking menjadi kebutuhan, pemerintah harus menambah trayek baru dengan armada yang sedikit berbeda warna, yakni taksi Kuning Putih. Walau kadang ada sebagian jalan yang saling tumpah tindih antara taksi Kuning dengan Kuning Putih tetap saja semua armada selalu dipenuhi penumpang.

BACA JUGA:  KPU Banjarmasin Mulai Sortir dan Lipat Surat Suara Pemilu

Sekali lagi, karena kemudahan memiliki kendaraan pribadi menjadikan taksi kuning mulai ditinggalkan. Selain itu, luas kota Banjarmsin yang hanya 94 km2 menjadikan masyarakat lebih memilih menggunakan roda 2 untuk beraktivitas dibandingkan angkot, selain lebih murah juga efektif.

Mulai redupnya kejayaan taksi Kuning sudah menjadi perhatian pemerintah sejak beberapa tahun yang lalu. Zaman Walikota H Muhidin misalnya,ada wacana untuk meremajakan taksi Kuning menjadi mobil yang lebih kecil seperti taxi argo. Namun hingga pucuk kepemimpinan Kota Banjarmasin berganti wacana itu tidak terwujud.

Tahun 1988 jumlahnya masih tercatat diangka 800 buah, tahun 2010 jumlahnya berkurang sebanyak 196 buah atau menjadi 604 buah saja. Hingga di tahun 2015 jumlah yang tersisa hanya 338 buah dan saat ini jumlah itu tidak sampai 100 buah.

BACA JUGA:  Upacara adat Mallasuang Manu, di hadiri Bupati Kotabaru

Meraka yang tersisa inipun seakan hidup segan mati tak mau, tidak memiliki pilihan lain selain bertahan hingga berakhir episode taksi Kuning ini.

Bersambung …….

Pos terkait