Membongkar Dalih Penghambat Kesuksesan

  • Whatsapp

 

Ada banyak rintangan dan godaan yang terkadang menyebabkan Kita tidak sukses mencapai impian. Baik dalam berbisnis ataupun bidang bidang lainnya di kehidupan. Manusia terlalu pandai beralasan,mencari pembenaran dan argument yang menyebebkan dia berhenti di tengah jalan. Bahkan ada yang belum sempat action, dengan berbagai analisanya, orang ini mengurungkan diri untuk bertindak dan mencoba. Pada  tulisan ini Kita akan membahas dalih dalih yang menjadi penghalang tersebut.

Muat Lebih

 

Pertama Dalih Kesehatan

“…tetapi kesehatan saya buruk.”

“Saya merasa tidak enak badan.”

“Ada yang tidak beres dengan diri saya.”

Banyak orang berlindung dibalik alasan klasik ini. Nah untuk menaklukkan dalih kesehatan ini cobalah untuk Jangan berbicara tentang kesehatan Anda pada saat ingin melakukan sesuatu. Karena semakin Anda berbicara mengenai suatu penyakit, bahkan cuma pilek, semakin buruk tampaknya penyakit itu. Percayalah dengan tidak hawatir tentang kesehatan Anda, dan selalu berpikir dan meyakini Saya sehat dan sehat terus, berdampak sangat positif untuk penyembuhan. Karena sebenanrnya setiap penyakit itu pasti ada obatnya dan pikirian itu sangat berpengaruh kepada penyembuhan lebih dari 40 %. Hilangkan kebiasaan malas tidak berusaha dengan alasan kesehatan, lebih baik letih karena bekerja daripada letih karena menganggur. Karena Hidup ini  untuk dinikmati, jangan disia-siakan.

BACA JUGA:  1 + 1 = ?

 

Kedua Dalih Inteligensi

“…tetapi Anda harus mempunyai otak yang cerdas untuk berhasil.”

Thomas Alva Dison penemu lampu pernah mengatakan bahwa imajinasi lebih penting daripada logika. Jadi banyak orang berhasil di dunia ini adalah orang yang suka bermimpi dan berimajinasi pada saat dia terbangun. Fakta tersebut mematahkan tes tes IQ yang menyatakan bahwa IQ lah penentu utama kesuksesan. Hasil dari riset IQ ini hanya mempengaruhi 10-20% kesuksesan seseorang.

Di dalam otak kita ada kekuatan yang lebih besar yaitu kekuatan Emotional (EQ) dan Spiritual (SQ). Kecerdasan inilah yang sebenarnya harus lebih dikuasai. Tidak banyak orang mau mengakui secara terbuka bahwa mereka merasa kurang cerdas, mereka lebih suka merasakannya sendiri. Kebanyakan dari kita membuat 2 (dua) kesalahan dasar sehubungan dengan kecerdasan pertama kiita meremehkan kekuatan otak kita, dan Kita terlalu menganggap hebat kekuatan otak orang lain. Jangan pernah meremehkan inteligensi Anda sendiri dan menganggap terlalu tinggi inteligensi orang lain, mari kita temukan bakat unggul dan manajelah otak Kita dengan serius dan focus alih alih daripada khawatir mengenai IQ Anda. Gunakan otak Anda untuk mencari cara-cara untuk menang, bukan membuktikan bahwa Anda akan kalah. Ingatlah bahwa kemampuan berpikir jauh lebih bernilai daripada kemampuan mengingat fakta. Kita gunakan pikiran untuk menciptakan dan mengembangkan gagasan, untuk mencari cara-cara baru dan lebih baik untuk mengerjakan segala sesuatunya.

BACA JUGA:  Cerita Amat, Beli Mobil dari Hasil Rongsokan

 

Ketiga, Dalih Usia

“…tidak ada gunanya saya terlalu tua/terlalu muda.”

Dalih usia, merupakan penyakit kegagalan karena tidak pernah merasa berada pada usia yang tepat. Ingat, usia produktif manusia adalah usia 20 s/d 70 tahun. Menjadi tua itu pasti namun menjadi dewasa itu pilihan. Selalulah Kita Berpikir “Saya masih muda”, jangan mengatakan “Saya sudah tua.” Hitung berapa banyak waktu produktif yang masih Anda miliki. Hidup sebenarnya lebih panjang daripada yang kebanyakan orang duga. Investasikan waktu masa depan dalam mengerjakan apa yang benar-benar ingin Anda kerjakan. Berhentilah berpikir  Saya seharusnya memulai bertahun-tahun yang lalu. Itu adalah berpikir gagal. Berpikirlah sukses, Saya akan memulai sekarang, tahun-tahun terbaik saya menanti di depan saya.

BACA JUGA:  Strategi Rahasia Usaha Sukses. (Mengapa Susah Mengenali Tanda-tanda Usaha?)

 

Keempat Dalih Nasib

“…tetapi kejadian yang Saya alami lain, saya mendapatkan nasib buruk.”

Seseorang yang naik hingga posisi puncak di dalam pekerjaan apapun mempunyai sikap yang unggul dan menggunakan pikiran sehat mereka dalam bekerja. Ada prasangka positif dan keyakinan yang menyebabkan dia berhasil. Nasib adalah hak prerogative manusia, Tuhan mempercayakan kepada manusia untuk menentukan nasibnya sendiri. Terimalah hukum tabur tuai bahwa apabila kita menabur kebaikan akan menghasilkan kebaikan. Apabila kita bersungguh sungguh niscaya kita akan mendapatkan.

 

Penulis    : Taufiqur Rahman ( Trainer, Konsultan, Teraphys)

FB           : Taufiq Dai Trainer

IG            : Taufiq_Trainer

WA         : 085346743363

Pos terkait